ANALISIS SISA HASIL PEMBAKARAN MENGGUNAKAN INSINERATOR SEDERHANA TERHADAP SISA PEMBAKARAN SECARA KONVENSIONAL
DOI:
https://doi.org/10.53580/sistemik.v13i2.186Keywords:
Insinerator Sederhana, Pembakaran Konvensional, Residu Pembakaran, Efektif dan Efisien, Temperatur Tinggi dan DioksinAbstract
Setiap hari limbah padat akan bertambah sejalan dengan pemenuhan kebutuhan hidup dari setiap manusia dalam menjalani kehidupan sehari hari. Salah satu jenis limbah padat yang sering dilihat dan didengar adalah limbah rumah tangga, atau sering dikenal dengan istilah sampah rumah tangga. Tentu saja pertambahan sampah rumah tangga ini akan menjadi masalah yang harus diberi perhatian khusus karena kalau tidak di tindak lanjuti dengan baik, akan menimbulkan penimbunan sampah yang sangat besar. Dan penimbunan sampah ini bila berlarut - larut tidak ditangani dengan baik dan benar, maka akan menimbulkan masalah baru yaitu gunung sampah yang tidak sehat dan menjadi sumber penyakit bagi masyarakat sekitar. Sehingga diperlukannya penangganan sampah ini yang sejalan dengan penambahan jumlah sampah setiap hari. Pengelolaan limbah padat atau sampah rumah tangga ini merupakan salah satu tantangan utama dalam bidang teknik lingkungan dan teknik mesin terutama lingkungan masyarakat saat ini, khususnya terkait efektivitas pembakaran dan dampak lingkungan yang ditimbulkan. Metode pembakaran konvensional masih banyak digunakan, namun sering menyisakan residu pembakaran yang tinggi serta berpotensi menghasilkan zat berbahaya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbandingan hasil pembakaran antara metode konvensional dan penggunaan insinerator sederhana, ditinjau dari tingkat efektifitas dan efisiensi pembakaran, jumlah residu, dan potensi bahaya dioksin. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimen dengan membandingkan karakteristik residu hasil pembakaran pada kedua metode. Hasil penelitian menunjukkan bahwa insinerator sederhana dengan temperatur operasi di atas 850°C mampu menghasilkan pembakaran yang lebih sempurna, ditandai dengan residu yang lebih sedikit dan efisiensi pembakaran yang lebih tinggi. Serta tidak menyebabkan keracunan dioksin, di mana ini dapat timbul apabila pembakaran dilakukan tidak sesuai dengan kondisi pembakaran yang baik.








